Sabtu, 27 Agustus 2016

KODOK DAN KATAK

Bacaan: Yesaya 61:10,11 NATS: Seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran (Yesaya 61:11) Salah satu buku anak-anak yang saya sukai adalah Frog and Toad Together (Kodok dan Katak Bersama-sama) karya Arnold Lobel. Kodok mempunyai kebun yang dikagumi oleh Katak, sehingga Katak ingin memilikinya juga. Lalu Kodok berkata kepadanya, "Memang kebun itu indah, tetapi kamu harus bekerja keras." Ketika Kodok memberikan beberapa benih bunga kepada Katak, Katak pun segera pulang dan menanamnya. "Ayo benih-benih," kata Katak, "bertumbuhlah sekarang." Ia berusaha keras membuat kebunnya berbunga. Ia berteriak kepada benih-benih itu, membacakan cerita-cerita panjang, dan menyanyikan lagu-lagu, tetapi benih-benih itu tidak kunjung tumbuh. "Apa yang harus kulakukan?" teriak Katak. "Tinggalkanlah benih-benih itu sendirian," kata Kodok. "Biarkanlah matahari menyinari, dan hujan menyiraminya. Nanti benih-benihmu akan mulai tumbuh." Lalu suatu hari, tanaman-tanaman hijau kecil muncul. "Akhirnya," teriak Katak, "benih-benihku tidak takut lagi untuk tumbuh! Kamu benar, Kodok. Ini memang pekerjaan yang sangat keras." Banyak orang berpikir bahwa sulit sekali bertumbuh dalam kebenaran. Kita harus menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan, berdoa, dan menumbuhkan iman kita dengan berada bersama orang-orang beriman lainnya. Namun, kemajuan kita dalam kesucian tetap tergantung kepada Allah. Ketika Dia menyinarkan wajah-Nya kepada kita dan mencurahkan kasih-Nya dalam hidup kita, kita akan bertumbuh. Lalu kebenaran akan mulai tumbuh (Yesaya 61: 11). Jangan putus asa apabila pertumbuhan itu lambat. Sebentar lagi Anda akan memiliki kebun -DHR PERTUMBUHAN ROHANI TERGANTUNG DARI AIR FIRMAN TUHAN DAN MATAHARI KASIH-NYA

Rabu, 20 Juli 2016

PENDERITAAN SANG JURU SELAMAT

Bacaan: Lukas 22:39-46 NATS: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Mazmur 22:2) Waktu itu adalah hari Kamis malam di minggu Paskah. Yesus bersama para murid-Nya sedang berada di salah satu tempat menyepi favorit-Nya, yakni Taman Getsemani. Dengan perasaan yang sangat sedih, ia memberi nasihat kepada para murid untuk berdoa memohon kekuatan agar tetap setia kepada-Nya. Dia kemudian selama beberapa saat menjauhkan diri dari mereka dan berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi" (Lukas 22:42). "Cawan" yang diminta Yesus untuk dibebaskan dari Dia bukanlah kematian. Dia memang datang ke dunia untuk mati bagi kita. Saya pikir cawan tersebut melambangkan keterpisahan yang menakutkan dengan Sang Bapa. Dan keterpisahan itu akan membuat-Nya berseru dari atas kayu salib, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Di taman itu, Dia pasti telah mengantisipasi saat Bapa-Nya akan memalingkan wajah dari-Nya. Kedatangan malaikat memang meyakinkan-Nya bahwa Dia tidak seorang diri. Namun, kenyataan bahwa Bapa-Nya tak lama lagi akan menarik diri dari-Nya sangat menyelimuti pikiran-Nya. Dia akan menanggung dosa kita dan merasakan kesendirian yang luar biasa di kayu salib. Kesadaran ini membuat Yesus berdoa sedemikian khusyuk sehingga "peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah" (Lukas 22:44). Bahkan yang lebih menakjubkan bagi kita adalah kenyataan bahwa Yesus menanggung penderitaan yang hebat ini untuk Anda dan saya! --HVL KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN UKURAN KASIH ALLAH KEPADA ANDA

Minggu, 17 Juli 2016

SAAT BERBELAS KASIH

Bacaan: Lukas 23:26-34 NATS: Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34) Pada tahun 2002 saya berada di Jakarta, Indonesia. Saat itu saya menjadi pengajar selama dua malam dalam suatu konferensi Alkitab. Malam pertama, saya berangkat lebih awal ke gereja yang menjadi penyelenggara acara, dan sang pendeta mengajak saya untuk berkeliling gedung. Keindahan gereja itu mengesankan saya. Kemudian sang pendeta mengajak saya ke ruangan yang besar di tempat yang lebih rendah. Di bagian depan terdapat mimbar dan meja Perjamuan Kudus. Di belakangnya tampaklah dinding beton sederhana dengan salib kayu menempel di dinding. Di bawahnya tertera tulisan berbahasa Indonesia. Saya menanyakan apa bunyi tulisan itu, dan saya terkejut saat ia mengutip perkataan Kristus yang dilontarkan-Nya dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Saya menanyakan apakah ada alasan khusus sehingga tulisan itu tertulis di situ. Ia lalu menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya di kota ini pernah terjadi kerusuhan hebat, dan 21 gereja dibakar habis dalam satu hari. Dinding beton itu merupakan satu-satunya yang tersisa -- dari gereja pertama yang dibakar. Dinding dan ayat tersebut mengingatkan mereka pada belas kasih yang ditunjukkan Kristus di atas kayu salib, dan hal itu menjadi pesan gereja bagi kota mereka. Balas dendam dan kepahitan bukanlah respons yang menyembuhkan kebencian dan kemarahan dunia yang terhilang ini. Akan tetapi, belas kasih Kristus dapat menjadi respons yang memulihkan, seperti halnya yang terjadi 2.000 tahun silam --WEC BELAS KASIHAN DIBUTUHKAN UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA DAN HATI SESAMA

Sabtu, 16 Juli 2016

RAIH KESEMPATAN

Bacaan: Kisah Para Rasul 8:26-38 NATS: Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang (Galatia 6:10) Hujan deras mengguyur di luar ketika Marcia, direktur Jamaican Christian School bagi kaum tunarungu, menjadi pembicara untuk kelompok kami. Tiga puluh empat remaja dan beberapa orang dewasa terdaftar di sekolah itu. Namun, seorang siswi kami tampaknya tidak terganggu oleh hujan di luar atau oleh anak-anak yang berlarian keliling ruangan. Remaja itu mendengar Marcia berkata, "Saya bermimpi dapat memiliki tempat bermain bagi anak-anak ini." Siswi ini mengingat-ingat perkataan Marcia, dan melalui dorongan dari Tuhan, ia mewujudkan impian itu menjadi suatu gagasan. Kemudian pada hari itu juga ia berkata kepada saya, "Kami akan kembali dan membangun tempat bermain bagi mereka." Suatu kesempatan pelayanan telah dibukakan. Setelah lewat empat bulan, pada hari hujan di Jamaika, kami mengadakan perayaan di ruangan yang sama. Kami berkumpul di sebuah tempat bermain yang terbuat dari kayu -- lengkap dengan luncuran, tangga bermain, palang-palang panjatan, ayunan, benteng, dan rekstok gantung. Seorang siswa meraih kesempatan itu dan sebuah impian terwujud. Seberapa sering Allah mendorong kita bertindak untuk memenuhi kebutuhan sesama, tetapi kita membiarkan kesempatan itu berlalu? Berapa kali Roh Kudus mendorong kita untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dalam nama Yesus, tetapi kita mengabaikan dorongan itu? Seperti halnya Filipus dalam Kisah Para Rasul 8, marilah kita menghormati Tuhan dengan merespons-Nya melalui tindakan. Raihlah setiap kesempatan yang Allah berikan untuk melayani sesama dalam nama-Nya --JDB SAAT ROH KUDUS MEMBERIKAN DORONGAN, BERTINDAKLAH

Jumat, 15 Juli 2016

UMAT-KU

Bacaan: 1Petrus 2:1-10 NATS: [Kami] sekarang telah menjadi umat-Nya (1Petrus 2:10) Seorang gadis kecil dihukum karena berperilaku buruk. Orangtuanya kemudian menyuruh dia untuk menyantap makan malamnya seorang diri di pojok ruangan. Mereka tidak memedulikan gadis kecil itu sampai mendengar ia memanjatkan doa yang dikutip dari Mazmur 23, "Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku." Kisah di atas memang lucu. Akan tetapi, keluarga kita sendiri memang kadang kala dapat menjadi seperti musuh tatkala perilaku mereka tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Bahkan keluarga seiman kita di gereja kadang-kadang juga dapat mengecewakan kita. Namun dengan mengubah fokus diri kita, maka kita akan dapat belajar mengesampingkan pemikiran yang naif bahwa orang lain akan senantiasa memenuhi pengharapan kita yang tinggi. Daripada memusatkan pengharapan kepada sesama, kita dapat menemukan pengharapan di dalam kebenaran bahwa kita adalah salah seorang anak Allah dengan meletakkan iman kepada Yesus (1Petrus 2:10). Dia telah memilih kita dan menjadikan kita "umat kepunyaan Allah sendiri" (ayat 9). Tuhan telah membawa kita masuk ke dalam keluarga-Nya, dan kita dapat merasa yakin bahwa persekutuan kita dengan-Nya takkan pernah dapat diputuskan. Dia tidak akan memperlakukan kita sebagai musuh. Ketika orang lain mengecewakan Anda, janganlah berkecil hati. Ubahlah fokus perhatian Anda dan ingatkan diri sendiri bahwa Anda yang telah mengimani Yesus adalah seorang anak Allah -- yang dihargai dan dipelihara oleh-Nya --AMC TATKALA ORANG LAIN MENGECEWAKAN ANDA PANDANGLAH KE ATAS

Rabu, 13 Juli 2016

PENGHARAPAN YANG REALISTIS

Bacaan: 2Timotius 4:16-18 NATS: Tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku (2Timotius 4:16,17) Salah satu hal yang saya pelajari setelah dewasa adalah jangan berharap banyak dari sesama. Kita mungkin mencurahkan banyak tenaga dan kasih kepada seorang teman atau anggota keluarga, tetapi kita tidak melihat adanya perkembangan atau tidak menerima ucapan terima kasih atas usaha kita. Bahkan mungkin orang lain yang menerima pujian atas pekerjaan yang kita lakukan. Jika kita berharap semua orang mengakui dan menghargai hasil kerja kita bagi mereka, maka kita akan sangat terluka. Kita akan mulai bertanya pada diri sendiri, "Hanya inikah wujud terima kasih yang saya dapatkan?" Di tengah kekecewaan itu, kita perlu mencermati motivasi kita. Apakah kita memiliki pemahaman yang tidak kudus tentang pemberian hak, atau hasrat besar agar dilihat dan dipuji karena usaha kita? Dapatkah kita memberi dengan rela dan membiarkan orang lain bertanggung jawab dengan respons mereka sendiri? Dalam pelayanannya bagi Tuhan, Rasul Paulus pernah melewati masa-masa ketika semua orang meninggalkannya. Namun, perhatiannya tetap terfokus pada kekuatan yang Allah berikan kepadanya "supaya ... Injil diberitakan dengan sepenuhnya" melalui dirinya (2Timotius 4:16,17). Kita seharusnya tidak berharap memperoleh apa yang hanya dapat diberikan oleh Yesus dari sesama kita. Berharap seperti itu hanya menunjukkan betapa tidak realistisnya kita. Tugas kita hanyalah memberi dan menyerahkan hasilnya kepada Tuan kita, karena kita tahu bahwa pada waktunya kelak kita akan menerima upah dari Dia: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia" (Matius 25:21) --DHR JIKA KITA BEKERJA DENGAN BAIK BAGI KRISTUS KITA AKAN MENERIMA PUJIAN DARI-NYA

Selasa, 12 Juli 2016

KAMPANYE PERDAMAIAN

Bacaan: Lukas 19:1-10 NATS: Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10) Dalam buku karya Craig Nelson, The First Heroes, kita akan membaca tentang para penyerang Doolittle yang melancarkan serangan balasan besar pertamanya di garis depan Pasifik semasa Perang Dunia II. Tidak semua "penyerang" berhasil kembali dari misi pengeboman mereka. Jacob DeShazer adalah salah seorang di antara mereka yang ditangkap dan ditawan di kamp tahanan perang yang keadaannya sulit dan menyedihkan. Di kemudian hari setelah perang usai, DeShazer kembali ke Jepang. Akan tetapi, ia tidak kembali untuk membalas dendam. Ia telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat, karena itu ia kembali ke Jepang dengan membawa kabar baik tentang Kristus. Seorang mantan prajurit yang dulu pernah mengampanyekan perang, kini mengampanyekan perdamaian. Misi DeShazer ke Jepang mencerminkan hati Sang Juru Selamat, yang datang sendiri untuk misi kasih dan perdamaian. Lukas mengingatkan kita bahwa kedatangan Kristus ke dalam dunia tidak hanya untuk menjadi teladan moral atau guru yang memberi kesan mendalam. Dia datang "untuk mencari dan menyelamatkan" yang hilang (19:10). Kasih-Nya kepada kita diungkapkan di kayu salib, dan penyelamatan-Nya bagi kita diwujudnyatakan pada saat Dia muncul dari kubur dengan penuh kemenangan dalam kehidupan yang dibangkitkan. Di dalam Kristus kita menemukan pengampunan, dan pengampunan akan mengubah hidup serta kekekalan kita. Semuanya itu terjadi karena Yesus datang untuk mengampanyekan perdamaian --WEC KITA DAPAT MENDATANGI SESAMA KITA KARENA YESUS LEBIH DULU MENDATANGI KITA