Kamis, 16 Mei 2013

MILIK TERBAIK KITA

MILIK TERBAIK KITA Bacaan: Efesus 2:4-10 NATS: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8) Penyair Chili, Pablo Neruda, adalah seorang anak yang kesepian dan tidak bahagia. Ia tidak memiliki saudara dan teman. Suatu hari ia mengamati halaman belakang rumahnya dan menemukan sebuah lubang di pagar yang mengelilingi halaman tersebut. Tiba-tiba sebuah tangan mungil yang membawa sebuah mainan terjulur ke arahnya dari seberang pagar. Tetapi tangan itu tiba-tiba menghilang. Ia mendapatkan domba mainan kecil di tanah. Pablo kemudian berlari ke dalam rumah dan mengambil benda miliknya yang terbaik, yaitu buah pinus. Ia menaruhnya di tempat yang sama dan berlari sambil membawa domba mainan tersebut. Domba mainan itu akhirnya menjadi benda yang paling ia sukai. Pertukaran hadiah itu membawanya kepada fakta yang sederhana namun mendalam: Menyadari bahwa Anda dipedulikan oleh seseorang merupakan karunia hidup yang paling berharga. "Pertukaran hadiah kecil dan misterius itu tetap melekat di hati saya," katanya, "tersimpan dalam-dalam dan kekal." Membaca kisah ini membuat saya memikirkan karunia Allah bagi Anda dan saya—tangan-Nya yang terulur kepada kita dengan penuh kasih mengutus Putra-Nya Yesus untuk mati bagi dosa-dosa kita. Keselamatan merupakan karunia yang "tersimpan dalam-dalam dan kekal" dari Allah, yang diterima karena kasih karunia melalui iman. Bagaimana tanggapan kita terhadap kasih dan rahmat Allah yang tak terbatas? Mari kita berikan milik kita yang terbaik, yaitu hati kita —DHR YESUS MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI KITA APAKAH KITA MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI DIA?

Minggu, 12 Mei 2013

Lebih Dari Berharap

LEBIH DARI BERHARAP Bacaan: Matius 6:5-15 NATS: Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya (Matius 6:8) Ketika masih kecil, C.S. Lewis senang membaca buku E. Nesbit, terutama Five Children and It. Dalam buku ini, beberapa anak kakak beradik pada liburan musim panas bertemu dengan peri pasir kuno yang mengabulkan satu keinginan mereka setiap hari. Tetapi setiap keinginan hanya menimbulkan masalah bagi anak-anak tersebut dan bukannya membawa kegembiraan, karena mereka tidak bisa memperkirakan akibat dari terkabulnya segala sesuatu yang mereka inginkan itu. Alkitab memberi tahu kita untuk menyatakan segala keinginan kita kepada Allah (Filipi 4:6). Tetapi doa itu tidak hanya menyatakan kepada Allah apa yang kita ingin Dia lakukan untuk kita. Ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya bagaimana seharusnya berdoa, Dia mulai dengan mengingatkan mereka, "Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Matius 6:8). Apa yang kita sebut "Doa Bapa Kami" lebih merupakan hidup dalam hubungan yang bertumbuh dan memercayai Bapa surgawi daripada mendapatkan apa yang kita inginkan dari-Nya. Ketika kita bertumbuh dalam iman, doa kita tidak akan lagi berupa daftar keinginan, tetapi akan lebih berupa percakapan akrab dengan Tuhan. Menjelang akhir hidupnya, C.S. Lewis menulis, "Jika Allah mengabulkan semua doa tolol yang pernah saya panjatkan selama hidup, sekarang saya akan berada di mana?" Doa merupakan cara menempatkan diri kita di hadirat Allah untuk menerima apa yang sungguh-sungguh kita perlukan dari-Nya—DCM HAK TERISTIMEWA KITA ADALAH BERCAKAP-CAKAP DENGAN ALLAH KEWAJIBAN TERPENTING KITA ADALAH MENDENGARKAN DIA

Tidak perlu panik

TIDAK PERLU PANIK Bacaan: 1Petrus 4:12-19 NATS: Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (1Petrus 4:12) Saat melayani pendalaman Alkitab dalam suatu pelayaran di Kepulauan Karibia, saya mendengarkan pengarahan tentang tindakan penyelamatan yang biasa dilakukan di hari pertama. Tindakan pencegahan sangatlah penting untuk berjaga-jaga seandainya tiba-tiba kapal harus dievakuasi. Pengarahan dari awak kapal ditutup dengan penjelasan sederhana tetapi sangat penting. Kombinasi khusus suara terompet udara, yang menandakan latihan, berbeda sekali dengan suara yang akan dibunyikan untuk menandakan situasi darurat yang sebenarnya. Perbedaan itu sangat penting. Latihan tak dirancang untuk mengadakan evakuasi. Jika para penumpang panik saat latihan, maka akan terjadi kekacauan. Apabila kita tidak memahami situasi di sekitar kita, kita mudah guncang oleh kegelisahan hidup. Orang-orang yang hidup di zaman Petrus mengalami hal yang sama. Ia memberi peringatan sederhana: "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian" (1Petrus 4:12). Pencobaan dan penderitaan hidup seolah-olah terdengar seperti panggilan untuk melakukan "evakuasi" -- melarikan diri atau menghadapi hidup secara putus asa dan tidak bijak. Namun, lebih bijak jika kita lebih peka mendengar suara Tuhan. Pencobaan itu tidak akan menjadi lebih dari sekadar pengingat bahwa kita harus percaya kepada Allah semata, bukan kepada manusia. Kita dapat memercayai-Nya pada saat-saat seperti itu apabila tanda bahaya dalam hidup kita mulai berbunyi --WEC Kita dapat mengandalkan kasih Sang Juru Selamat Untuk berlindung dari badai kehidupan; Aman dalam rengkuhan lengan-Nya yang kuat Dia menyediakan tempat perlindungan. --Hess TANTANGAN HIDUP TIDAK DIRANCANG UNTUK MENGHANCURKAN KITA TETAPI UNTUK MENDEKATKAN KITA KEPADA ALLAH

Sabtu, 11 Mei 2013

Ibadah pencurahan Roh kudus

Berikut photo-photo ibadah pencurahan roh kudus

BATU PUTIH

BATU PUTIH Bacaan: Wahyu 2:12-17 NATS: Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya (Wahyu 2:17) Pesan dari Tuhan kita kepada jemaat di Pergamus menyebutkan hal yang diselimuti teka-teki, yaitu mengenai "nama baru" yang tertulis pada "batu putih" (Wahyu 2: 17). Kira-kira apakah artinya? Ada dua penjelasan yang masuk akal tentang hal ini. Dalam pengadilan kuno, ketika terdakwa dijatuhi hukuman, mereka akan menerima batu hitam dengan nama mereka tertera di atasnya. Jika mereka dibebaskan dari hukuman, mereka akan menerima batu putih. Demikian pula, mereka yang telah percaya kepada Yesus untuk diselamatkan akan dibebaskan dari penghakiman Allah. Alangkah leganya jika kita mengetahui bahwa dosa kita diampuni! Penjelasan lainnya berasal dari pertandingan olimpiade kuno. Ketika para atlet memenangkan pertandingan, mereka akan dihadiahi batu putih, yang merupakan tanda kehormatan. Kedua ilustrasi ini menunjukkan kepada kita keseimbangan kehidupan kristiani yang mengagumkan. Kita diselamatkan oleh kasih karunia semata-mata melalui iman (Efesus 2:8,9). Namun, orang kristiani yang taat sering bergumul ketika mereka berusaha melayani Dia yang telah menyelamatkan mereka. Satu penjelasan mengenai batu putih ini menggambarkan pembebasan cuma-cuma. Penjelasan lainnya menunjukkan bahwa kita akan diberi upah atas perbuatan baik kita (1 Korintus 3:13,14). Memercayai Kristus sebagai Juruselamat akan memberi identitas baru kepada kita. Hal itu seperti menerima nama baru yang tertulis di atas batu putih, yang menunjukkan bahwa kita betul-betul diampuni —HDF YESUS MENGHAPUSKAN DOSA DAN MEMBERI UPAH ATAS PELAYANAN KITA

Jumat, 10 Mei 2013

Tersingkir

TERSINGKIR Bacaan: 2Samuel 15:13-26 NATS: Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (Mazmur 73:26) Daud melarikan diri dari Yerusalem, diusir dari rumah oleh putranya, Absalom, yang telah mengumpulkan tentara untuk mendukungnya. Dalam pelariannya, ia memerintah Zadok, imamnya, membawa tabut Allah kembali ke Yerusalem dan memimpin bangsanya menyembah Allah di sana. "Jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya. Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya" (2Samuel 15:25,26). Mungkin, seperti Daud, Anda telah kehilangan kekuatan untuk menetapkan langkah. Seseorang telah mengambil alih hidup Anda, atau begitu tampaknya. Mungkin Anda khawatir jika perubahan keadaan dan manusia telah menghancurkan semua rencana Anda. Namun, tak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah yang penuh kasih. Tertulianus (150-220 M) menulis, "[Jangan menyesali] sesuatu yang telah dirampas ... oleh Tuhan Allah, yang tanpa-Nya tak sehelai daun pun dapat terlepas dari pohonnya, atau burung pipit yang paling tidak berharga sekalipun dapat jatuh ke bumi." Bapa surgawi tahu bagaimana memelihara anak-anak-Nya dan hanya akan mengizinkan apa yang menurut-Nya baik. Kita dapat bersandar pada hikmat dan kebaikan-Nya yang tiada terhingga. Sebab itu, kita dapat berkata seperti Daud, "Maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya" --DHR Saat kau tak berdaya dalam pusaran kehidupan, Kekuatan kuasa Allah akan menopangmu; Kekuatanmu yang merosot akan dipulihkan, Karena Dia Allah yang peduli padamu. --D. De Haan KITA DAPAT MENANGGALKAN KEKHAWATIRAN KITA BERSAMA ALLAH KARENA ALLAH PEDULI

Kamis, 09 Mei 2013

DIA MENERANGI JALAN

DIA MENERANGI JALAN Bacaan: Mazmur 112 NATS: Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar (Mazmur 112:4) Suatu malam, seorang misionaris di Peru mengunjungi sekelompok orang percaya. Ia tahu bahwa rumah tempat mereka bertemu berada di sebuah lereng dan jalan menuju ke sana berbahaya. Ia pergi ke sana naik taksi, sejauh bisa taksi menjangkau. Kemudian ia mulai naik menapaki jalan yang berbahaya menuju rumah itu. Malam itu gelap dan jalannya sangat sulit. Ketika ia melewati belokan, tiba-tiba ia melihat beberapa orang percaya membawa lentera yang terang. Mereka datang untuk menerangi jalannya. Ketakutannya sirna, dan ia melewati jalan yang menanjak itu dengan mudah. Dengan cara yang sama seperti itulah Allah menerangi jalan kita. Ketika kita memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Dia yang adalah Terang dunia, memasuki kehidupan kita dan menghilangkan kegelapan dosa serta keputusasaan kita. Terang ini senantiasa menghibur kita melewati saat-saat sulit. Di tengah-tengah kesedihan, masalah, sakit penyakit, atau kekecewaan, Tuhan menerangi jalan dan menguatkan anak-anak-Nya dengan memberikan harapan. Harapan ini barangkali disampaikan melalui kata-kata nasihat dari sesama orang percaya. Mungkin harapan itu berupa penerangan firman Allah melalui pelayanan Roh Kudus, peneguhan yang menenteramkan sebagai jawaban doa yang sepenuh hati, atau melalui penyediaaan barang kebutuhan tertentu secara ajaib. Apa pun kejadiannya, Allah mengirimkan terang pada saat kita dilanda kegelapan. Yesus senantiasa memberikan terang pada malam yang gelap gulita! —DCE ALLAH KADANG-KADANG MENEMPATKAN KITA DI DALAM GELAP UNTUK MENUNJUKKAN BAHWA YESUS ADALAH TERANG